Senin, 31 Maret 2014

Mengeluh

Ada teman instansi mengeluh lagi. Semoga ada hikmah untuk beliau. Semoga kuat ujian sehingga bisa naik tingkat.

http://www.kaskus.co.id/thread/5336f3e341cb17ad358b464c/lek-ga-saiki-kapan-maneh--hajat-tercurah-seorang-pns-djp


Jawaban:

Minggu, 16 Maret 2014

Sedikit Bantuan Doa untuk RIAU

Salah satu teman instansi menulis:
Lokalin:
Tulisan 13 Maret
Dear Friends,
Para Pemimpin yang dipercayakan Tuhan menjadi Pemimpin, Para Orang Tua Sesepuh yang Penuh Kebijaksanaan..
Hari ini 13 Maret 2014, tanggal yang sakral biasanya, Friday (hr ini bukan Friday sii) the Thirteen.. Film yang dulu ditunggu-tunggu. Duluuu, waktu masi kanak2.. tp tgl 13 tidaklah seharusnya demikian… kalau hari ini memilih menulis, itu karna sudah tak tertumpahkan lagi isi hati…
Semoga tulisan 13 Maret ini, terbaca oleh mu, Sahabat, Pemerhati, Para Pemimpin yang kami jadikan Orang Tua bagi kami..
Cerita ini bermula saat keluarnya SK Penempatan, bangga akhirnya ditempatkan, dipercaya Tuhan mengerjakan sesuatu yang besar, walau sedih juga meninggalkan Medan utk mencintai kota baru.. Pekanbaru, Kota Bertuah.. September 2011.mencoba mengenal nya. Mencoba jatuh cinta.. J
Juni-Juli 2012 pertama kali merasakan Asap yang katanya ritual tahunan di Kota ini.. Lumayan rasanya.. tapi dengan masker, dan semangat anak muda, masih tak ada apa-apanya lah asap saat itu.. Masih dengan semangat memantapkan diri meng HomeBase di Kota ini.. Krn bagi ku.. HomeBase adalah dimana Keluargamu berada.. Menikah Juli 2012, Suami memutuskan pindah kesini.. karna menunggu istri menyusul ke Jakarta, mungkin akan lama.. Masih sama-sama hati kami mencoba jatuh cinta pada Kota Bertuah.. Doakanlah Kotamu, agar damai sejahtera turun atas nya dan bagimu yang tinggal di dalam nya..
Juni-Juli 2013, ritual itu datang lagi… benarlah rasanya demikian, sudah menjadi agenda tahunannya.. Liburan tengah tahun dari Jakarta. Masih di pesawat saat mendekati landing time saat itu, tapi bau asap sudah menjemput.. bertambah pekat rasanya.. namun yahh tetap kita bertahan..  sekali lagi, disinilah kita mencari makan, disinilah kita membangun rumah.. dimana belahan hati berada, bagi kami itulah Home Base..
Januari 2014.. Puji Tuhan,, matahari mulai bersinar.. setelah sepanjang Nov-Des 2013 yang dingin oleh hujan yg tumpah ruah membasahi.. saat itu, sangat-sangat merindukan matahari rasanya..sungguh kebalikan dari perasaan saat ini yg menangis dlm Doa untuk meminta Hujan.. Tapi itulah manusia..
Tapi kesenangan Januari 2014 itu mulai menyusut saat memasuki Februari 2014.. oooooh asap.. semakin hari semakin pekat.. semakin bau.. semakin kotor.. bertanya.. Kenapa bukan bulan Juni Juli? Kenapa awal tahun? Kala pertanyaan itu belum terjawab, bertanya lagi..kenapa lebih 2 minggu? Dan hingga saat ini. Kenapa tidak hujan? Kenapa makin pekat? Sampai kapan? Apa yang harus kami lakukan?
Pertanyaan berubah menjadi khawatir ketika suami harus mengendari motor setiap pagi, setiap sore menuju rumah kami yang kecil, yang kadang asap terkungkung di dalam nya, dan harus diusir dengan kipas yg menari-nari semalaman. Khawatir karna hari ini tenggorokan mulai sakit, minum sebanyak apapun tapi tetap haus dan bibir pecah-pecah..
Khawatir dengan tanda ukur udara di jalan yang berubah dari “Sangat Tidak Sehat menjadi Bahaya”, Khawatir dengan artikel seorang Dr Ahli Paru dari RSUD Arifin Ahmad yang menyatakan Riau tidak layak huni, Khawatir dengan Pernyataan oleh Pemimpin yang dituangkan dalam Judul Koran Tribun Pekanbaru “Kita berserah pada Allah saja”., Khawatir dengan semakin banyaknya Pesawat yang ditunda, di reschedule bahkan di batalkan penerbangannya…Khawatir dengan aritkel-artikel yang bercerita tentang banyaknya pasien yang ISPA, Khawatir karena di Kantor di ruangan lantai 3 ini dengan jendela tertutup, tanpa ventilasi pun., asap memenuhi ruangan…
Teman-teman berbbm, ber Wa, ber twit.. sarankan untuk libur saja.. menjauh dari pekanbaru.. tapi tak semudah itu.. seadainya pun dapat pergi saat ini.. bagaimana tahun depan? Mundurkah kami dari harapan untuk mencintai HomeBase kami?
Bagaiman para Ibu penyapu jalan yang tidak mungkin pindah, bagaimana anak-anak yang memang harus tumbuh besar di Bumi Lancang Kuning ini.. Bagaimana yang darah dan air matanya adalah cinta untuk Kota ini?
Aku menulis karena tidak tahu, wahai para Pemimpin. Tidak kah bisa mengirim hujan buatan lagi.. kalau sekali gagal, bisakah mencoba dua kali, kalau gagal, bisakah tiga kali? Atau bisa kah yg seribu kali.. atau tidak pantaskah kami di perjuangkan sampai beratus ribu kali? Bolehkan kami meminta perhatian mu ya Bapak, orang tua kami, sedikit dari beratnya bebanmu utuk mengurus Bangsa ini.. Diantara banyak bencana negri kita, bisakah kami meminta dana dan usaha dari negara ini?
Untuk Pemimpin ku di Intansi ini.. hanya memohon Doamu ya Bapak.. semoga anak-anak Bapak yg mencintai pekerjaannya, yang dengan senang hati mengganti HomeBase nya, menjadi tegar dimana saja HomeBase (belahan hati)nya berada.semoga kami menjadi kuat, semoga kami menerima uluran perhatian dan dukungan…

Penuh Cinta,
Perempuan yang mencoba menulis isi hati…


Malamnya kucek, kuanalisa dan kudoakan untuk mereka. Lalu sedikit bantuan doaku:

Lokalin:
Ada kabar bahwa angin dan hujan akan datang minggu ini. Angin berkekuatan sedang menuju utara, sedangkan gumpalan awan mulai menuju Pekanbaru dan sekitarnya. Diamini saja, semoga benar.
Saya pernah di Pekanbaru tahun 89an. Saat itu tidak pernah terjadi kabut asap seperti ini. Cerita sejarah dulu, pendatang, pemerintah dan masyarakat adat bersatu padu menjaga hutan. Sebetulnya, masyarakat adat seharusnya tahu jika hutannya akan dibakar. Karena, setiap jengkal tanah, termasuk hutan lindung sekalipun ada penguasa adatnya. Tidak akan ada yang berani membakar tanpa sepengetahuan masyarakat adat. Hanya mencuri buah nanas satu buah milik masyarakat adat saja sudah kena "voodo". Apalagi membakar ribuan buah pohon milik mereka.
Analisis saya:
Ada campur tangan sebagian masyarakat adat yang menikmati hasil pembakaran hutan, kalau pemerintah jelas tahu. Soalnya, rata2 pembakar adalah calon pemilik pabrik/ perkebunan yang izin ke pemerintah. Kalau hanya dibakar untuk menanam lahan, ini cuman “omong kosong”. Selain itu, jangan terlalu berharap pada pemerintah, mereka bukan orang lapangan.
Lalu apa lagi penyebab pembiaran pembakaran hutan? Kurang pedulinya pendatang terhadap masyarakat adat, sehingga mereka harus merelakan hutannya dijual. Coba saja beri mereka pekerjaan atau alat pemotong kayu dan pembuat papan, pelatihan pertanian dan perkebunan, maka hal ini dapat diminimalisir. Kalau yang mata duitan ya tidak ada solusi lain selain melibatkan aparat penegak hukum.
Kemudian, apa yang bisa dilakukan ibuk untuk ikut peduli?
-          Langkah awal sudah benar dengan menulis di fordisk. Lanjutkan menulis di media social dan tempat lain yang mendukung kepedulian ini. Misalnya di komunitas Jendela. Perlu kesabaran dan ketekunan. Tulisan ibuk sudah cukup berisi, sehingga InsyaAllah akan diterima. Kesabaran ini, misalnya saya pernah menulis di bulletin Shalahudin DJP yang ada isi kritik budaya absen di DJP dibandingkan dulu dan kritik terhadap Kraton yang baru kisruh dan mengorbankan rakyat, tetapi ditolak. Akhirnya dengan membuat gaya bahasa yang berbeda dengan inti yang sama, tulisan bisa masuk di Buku Berkah AR (meskipun belum ada kelanjutannya) dan masuk di buku antologi “Berbagi” dari komunitas Jendela.
-          Mencoba merangkul organisasi social dan mahasiswa tentang penelitian pembakaran hutan ini. Kemarin, organisasi di Yogya sudah coba saya contact, tetapi mereka belum sanggup membantu. Baru focus di pengelolaan fakir miskin dan yatim piatu serta program terbaru yaitu mencari orang tua asuh bagi salah seorang bayi yang baru ditinggal mati bapaknya. Karena organisasi ini kekurangan tempat dan dana. Si Ibu bayi merupakan salah satu contoh korban bully (dikucilkan di desanya) sehingga harus mengungsi. Andaikan tidak ketemu organisasi ini dan Saudaranya tidak membantu kemungkinan bayinya digugurkan dan ybs masuk penjara. Stop bullying, OK?
Semoga bermanfaat
#stop bullying
Belum tentu kamu lebih baik dari orang yang kamu hina. Satu jari menunjuk, maka empat jari yang kembali. Tunjukkan kebaikan, maka 4 kali kebaikan yang akan kamu terima kembali.

Yang dibully pun gak usah lebay. Semua ada resikonya. Jika bisa bertahan dan memperbaiki diri, maka akan ditingkatkan iman dan derajat takwanya. Kadang, itu hanya perbedaan pendapat, belum saling mengenal dan mengedepankan persepsi masing- masing.

Berapa persen ngefeknya, buktinya juga hujan turun setelah berbulan- bulan tidak turun hujan:
http://news.detik.com/read/2014/03/15/132537/2526702/10/setelah-disemai-garam-hujan-turun-di-pekanbaru

http://news.okezone.com/read/2014/03/15/340/955589/dua-bulan-diselimuti-asap-pekanbaru-akhirnya-diguyur-hujan

Pertanyaan yang sekarang justru timbul, adakah yang akan mempedulikan bayi yang ditinggal mati bapaknya oleh masyarakat Riau? Padahal tujuan utamaku adalah mengetuk hati mereka dengan balasan di fordisk instansiku. Minimal salah satu umat saja. Apakah mereka tahu bahwa doa harus dinyatakan dengan bukti, seperti contoh sohibbul kahfi yang tertidur di gua bertahun- tahun. Maka, kemarin kukatakan dalam doaku bahwa masih ada orang baik di Riau, salah satunya adalah pemosting di fordisk instansiku. Tetapi, kemungkinan besar setelah bencana asap selesai, maka mereka akan kembali ke rutinitas. Nasehatku di fordisk belum tentu diindahkan. Kadang menyesakkan mencampuri urusan Tuhan. Tuhan lebih tahu seharusnya bagaimana dan berapa lama untuk menyadarkan umat dengan musibahnya. Tapi aku yakin, keturunan akan datang akan menjadi lebih baik karena ada sedikit doaku disana. Seperti contoh yang kubantu doa memiliki keturunan, maka si ibu bayi menjadi peduli dengan yayasanku karena "bisikan si jabang bayi" katanya. Katanya bawaan si bayi selalu ingin main kerumahku dan selalu ingin membalas budi atas sedikit bantuan doaku, yang akhirnya kusarankan untuk membantu anggota yayasanku.

Hal lain yang cukup menyesakkan adalah ada yang mengambil keuntungan dari hal ini, misalnya menganggap itu hanya karena ditabur garam, itu faktor SBY, dll......Tidak apa- apa, semoga lain kali aku bisa menjadi lebih bijak.

Seringkali aku mengalami hal serupa, termasuk membantu SP/RA kecil, maka belum tentu mereka membantuku dan anggota yayasanku secara langsung, terutama saat ini adalah bayi yang ditinggal mati bapaknya. Niatku adalah membantu team spiritual yang salah satunya adalah temanku. Temanku adalah salah satu yang sangat peduli terhadap orang lain, negara dan tentunya anggota yayasanku. Sambil mengumpulkan orang- orang baik. Semoga Allah menunjukkan bantuannya melalui tangan orang lain, bukan secara langsung dari orang yang kami tolong. Semoga Allah memudahkan jalan bagi yayasan kami.

#Kepedulian dan kebajikan seperti rantai yang saling menguatkan, seperti sapu yang digunakan untuk membersihkan, semakin banyak maka hasilnya semakin kuat dan semakin baik. Semoga umat menyadarinya. Amin


Bukti Kondisi 03.03.2014 tidak diedit beserta perkembangannya

supaya kelihatan bahwa tanpa editan.

Kondisi RA/SP kecil 15.03.2014:

Kondisi SP/ RA kecil pasca PILEG



Kita ikuti perkembangan selanjutnya




Minggu, 02 Maret 2014

Kondisi 03.03.2014

Bukan jarang menulis, akan tetapi fokus menulis untuk cerpen, puisi dan novel untuk lomba. Mencoba supaya dapat berbagi ilmu (pena lebih tajam dari pedang) dan syukur menambah ekonomi untuk menghidupi anggota yayasan kami.

Pertanyaan menggelitik: mengapa saat ini spiritual mengalami penurunan? Kita coba melihat beberapa masa:
- Masa wali songo, penuh dengan karomah dan kemenangan atas perang bagi ahli spiritual.
- Masa perdukunan, karena setelah wali songo banyak murid yang terbujuk duniawi dan akhirnya melenceng. Atau yang bukan murid tetapi berusaha sendiri, akhirnya tersesat. Harusnya beramal dan membimbing malah dijadikan profesi. Akhirnya ilmu yang dipunyai bukan dari Allah, tetapi dari jin, roh, dsb......pakai sistem khodam dan maksimal prewangan untuk yang sampai dunia roh.
- Masa dua ormas besar islam. Sekarang justru mulai menurun, karena masalah duniawi dan para kyai yang terjun dunia politik.
- Masa ustadz karbitan, hanya belajar ilmu kitab. Sekarang mulai pudar karena tergoda duniawi dan politik.
- Masa iman adalah amal. Besar/ kecilnya ilmu tergantung amal perbuatan kita. Sekarang kita memasuki masa ini.

Sosok gubernur, walikota, dan pimpinan daerah lain banyak yang sudah mulai sadar tentang hal ini. Hanya saja cara dan dasar pemikirannya berbeda. Akan tetapi tujuannya sama. Menciptakan keadilan.

InsyaAllah, salah satu tokoh yang "mengajak peduli dengan sedikit memberi bukti" akan dapat menjadi presiden RI. Sayang, wahyunya tidak begitu besar. Dipaksakanpun belum mampu menjadi ratu Adil bagi seluruh dunia, tetapi lumayanlah, menjadi tonggak kebenaran bagi kemenangan spiritual sejati.

Apabila dalam gambaran spiritual, siluman (Paling banyak adalah siluman ular), buto, jin, gendruwo diberantas oleh pasukan berkuda yang memakai panah dan berjirah keemasan. Memang mereka dibawah komando Budha dan Hindu. Apabila secara islam, maka Budha adalah Nabi Zulkifli AS. Intinya sama saja, roh beliau masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk membantu doa kepada umat di dunia. Di Al-qur'an telah disebutkan, bahwa orang alim yang meninggal sesungguhnya masih hidup. Yang dimaksud adalah rohnya.

Beberapa bagian kejahatan menyerah dan  dikumpulkan di suatu tempat. Allah mengutus salah satu malaikat berpedang panjang untuk menjaga mereka. Suatu saat, mereka bisa membelot apabila ada kesempatan. Sehingga, jika terjadi maka mereka akan dibantai langsung oleh malaikat tsb.

Si RA/ SP "kecil" ini akan mengangkat pamor partai yang mengusungnya, sehingga 30 % PILEG bisa terpenuhi. Anggota partai yang kotor harus dibuang. Termasuk dari partai lain. Tidak boleh mengorbankan rakyat banyak demi memperbaiki mereka. Toh, mereka sudah banyak diberi kesempatan. Untung, Si RA/ SP "kecil" ini juga dibimbing sekelompok ahli spiritual. Meskipun kadang lepas kontrol, tetapi masih dapat dikendalikan. Selanjutnya Si RA/ SP "kecil" dapat dijadikan jembatan bagi Si RA/ SP sejagat.

Sedikit gambaran untuk penerima wahyu sebelumnya. Karena arogan, sistem dinasti, tidak tegas, pembiaran korupsi, merasa berhutang kepada partai, bukan rakyat maka hidup akhirnya akan terhina. Kejamnya beliau dengan mengorbankan "si pencari uang". Maka balasan "karma" akan diperolehnya. Belum hati rakyat yang terluka saat memilih beliau. Setelah tidak menjabat lagi, maka beliau akan diobrak- abrik.

Rabu, 01 Januari 2014

Pasca pendopo jadi

Sebelum selesainya pendopo, sudah 11 orang yang kami bantu. Tidak perlu kami cari, mereka datang sendiri.

4 orang sudah memperoleh pekerjaan. Sisanya masih membantu penyelesaian pendopo.

Selain pendopo yang istilahnya seperti bunga yang didatangi orang, anggota yang sudah memperoleh pekerjaan mengakui bahwa lokasi pendopo memiliki karomah. Lama mereka tidak memiliki pekerjaan, akhirnya bisa memperoleh pekerjaan.

Penduduk sekitar juga takut jika membangun di sekitar lokasi pendopo, katanya lokasinya angker/wingit. Alhamdulillah, pembangunan kami aman.

Sementara, yang mendekat baru penerima bantuan. Untuk pemberi bantuan, baru sekedarnya. Semoga, ada yang bonafit dan menyadari harta dunia hanya 2 % dan lebih memilih harta akhirat. Juga keyakinan bahwa balasan di dunia sebanyak 700 kali kebaikan sesuai ayat al-qur'an mereka percayai.

Kamis, 12 Desember 2013

Bertarung dengan sesama ahli spiritual

Almarhum ibu seorang pejabat mendatangiku dalam mimpi. Minta tolong anaknya dibantu. Dalam kondisi sadar, kurasakan bayangan beliau menarik2 kakiku. Akhirnya kubantu semampuku meskipun pakai istilah memalukan. Awalnya orangnya juga gak percaya dengan ceritaku, padahal dia juga penganut kejawen murni. Apa gak bisa interaksi dengan arwah ibunya. Sampai disini, akupun menghentikan bantuanku. Karena, bagiku bantuanku juga harus menyadarkan si pasien supaya menjadi lebih baik. Ada masalah tentu ada sebab kesalahannya. Kecuali untuk yang diuji keimanannya oleh Allah SWT.

Suatu saat, kucek ternyata dia akan dihabisi musuhnya. Ini masalah perebutan kekuasaan dan dia pada posisi susah karena yang kalah dan tentunya modalnya kecil untuk mencari dukungan. Lima orang dukun, sedangkan lima orang adalah ahli spiritual. wadeh.....berat juga pikirku. Beberapa ilmuku kalah. Memang sengaja kulakukan, apabila langsung frontal kasihan juga musuhnya. Sampai pada tingkatan aku memakai ilmu salah satu sunan untuk dapat mengalahkan mereka. Akhirnya aku dapat mengalahkan mereka dan pejabat yang kubantu selamat.

Uang sekarang merupakan tuhan bagi mereka. Dan ini menunjukkan ilmu mereka masih cetek. Ilmu yang tinggi itu harus mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Harus bisa menimbulkan win win solution. Pembunuhan, santet, tenung bukanlah cara penyelesaian yang baik. Alhamdulillah, dengan majunya tekhnologi dan semakin pintarnya manusia,  sekarang manusia banyak yang cenderung berfikir rasional. Akan tetapi dajjal berupa tv dan internet yang perlu diantisipasi. Inilah yang menyebabkan manusia sekarang sesat..... Ahli spiritual sekarang harus mampu menyelesaikan masalah dajjal tekhnologi ini, yaitu dengan pembentukan karakter melalui bimbingan spiritual, tidak sekedar menyelesaikan masalah yang dihadapi umat. tetapi umat diajari supaya dapat menyelesaikan masalah sendiri.

Salah seorang ahli spiritual adalah guru temanku ternyata. Padahal temanku juga sudah lulus s2 spiritual istilahnya, sudah hampir khatam. qqqqqqqqq. Ternyata dunia ini sempit. Disini saya tambahkan, bahwa teman saya beragama katolik. Tetapi, dia tidak kalah dari kyai2 islam. Inilah iman, yang merupakan kumpulan pahala. Orang kristen yang berpahala dan ikhlas pun akan memperoleh ilmu Allah. Inilah, dukun atau ahli spiritual sama saja jika ilmunya disalahgunakan. Bagaimana bisa menang melawan ilmu Allah yaitu dengan doa? Karena itu, untuk pembaca sekalian, jika menghadapai masalah dengan dukun/ kyai/ pendeta/ romo siapapun, tidak perlu takut jika kita berada dalam kebenaran dan hati kita sudah condong kepada Allah SWT. Bukan kita yang menyelesaikan, tetapi Allah SWT.

Guru Besar/ Kyai AKMIL mengetahui hal ini. Akhirnya beliau turun tangan. Suatu kesempatan, pejabat tersebut menjadi pasien  Guru Besar/ Kyai AKMIL lewat pihak ketiga. Akan tetapi karena kejawen sudah watak, maka sulit diperbaiki. Dia lebih suka nyedot pusaka daripada belajar ilmu hikmah.

Aku tetap menolongnya dari belakang dan mendoakan supaya Allah menunjukkan jalannya. Sembari tetap yakin bahwa kelak anak keturunannya yang akan menjadi lebih baik. Seperti pasienku yang meminta keturunan. Kuharap anaknya yang akan mau menjadi orang yang beriman.

Guru Besar/ Kyai AKMIL tetap yakin suatu saat pejabat ini akan sadar. Kalau aku, sudah tak begitu penting, yang penting sudah menjalankan amanat almarhum ibunya. Terkadang, masalah memang digunakan Allah untuk mengingatkan manusia atas kesalahannya.


Mengalahkan dukun

Seperti beberapa kisah sebelumnya mengenai dukun yang mengguna- guna, menyantet dan memelet pasienku.
Awalnya, dukun- dukun ini langsung kubantai. Jinnya kusikat dan ilmu mereka kuhabisi. Kucabut ilmu mereka dan akan kukembalikan jika mereka sudah sadar. Guru Besar / Kyai AKMIL mengetahui hal tersebut, lalu mengatakan suatu saat: "Awae dewe ngerti ilmune dukun, tapi dukun ra ngerti ilmune dewe". Waduh....berarti tak mungkin mereka tahu kalau ilmunya kumusnahkan dan mereka tak ampuh lagi, dan tak mungkin minta tolong padaku untuk ilmunya dikembalikan. Tapi biarlah, suatu saat pasti akan ditunjukkan Allah.

Sebagai contoh dukun ini adalah seseorang di kawasan gunung kidul yang memiliki ilmu anti cukur. Kalau berendam di kali rambutnya tak pernah basah. Banyak pejabat penting dari Jenderal sampai presiden yang datang. Tetapi, atas izin Allah ilmu beliau pudar dan sering sakit2an. Kucek, ternyata karena dosanya. Selain menyalahi keluargaku, dia juga sering menipu pasiennya. Sampai mobil dipinjam dan tidak dikembalikan. Suatu saat, pasien tersebut kuberi surat untuk dikasihkan dukun supaya dukun tersebut mengembalikan harta pasien tersebut. Pasien ke tempat dukun, ternyata pulangnya malah dia mengirim jin, tentunya untuk mematai2 pasien dan akhirnya memata2iku. Jin juga kuusir. Intinya, dukun tetap tidak berniat mengganti harta pasien. Meskipun, dia jatuh bangkrut, tetapi seikhlasnya membantu apa salahnya. Guru Besar / Kyai AKMIL tahu hal ini dan mengatakan suatu saat dukun tersebut justru akan menjadi murid  Guru Besar / Kyai AKMIL. Kuamini saja.

Yang lain, adalah tiga dukun santet di daerah klaten. Puluhan tahun beraksi tanpa ada yang mengganggu. Mereka satu desa dan saling membantu. Itulah kode etik perdukunan, "sak guru sak ilmu ra saling ngganggu". Karena mengganggu pasienku, maka ilmu mereka kuhilangkan. Sebelum bertemu  Guru Besar / Kyai AKMIL, ada kyai yang membantuku tetapi takut dengan ketiga dukun ini. Inilah sesuai cerita awalku, sampai aku ikrar aku rela mati asal ketiga dukun juga ikut mati saat aku ketemu malaikat maut, maka akan kuminta itu. Termasuk, aku ikrar kalau ada yang bisa membantuku, maka akan kuangkat guru. Setelah bertemu  Guru Besar / Kyai AKMIL, maka sangat mudah mengalahkan mereka bertiga. Kucek, ternyata mereka bertiga juga akan cekcok. Sampai saat inipun mereka bingung kok bisa ilmunya tidak ampuh lagi.

Dukun lain adalah dukun selevel penyedot benda pusaka. Dia memelet salah satu pasienku untuk temannya. Juga kututup ilmunya. Dia juga tidak tahu kok ilmunya bisa hilang dan karena apa hilang. Tor, bagiku tidak begitu penting karena hanya level dukun. Kalau level seperti ini, di Bali semua kan menjadi dukun. Punya jin satu saja sudah dipakai merdukun. Di Bali, rata2 setiap orang khan memeliki khodam.

Untuk selanjutnya, aku tidak menghilangkan ilmu, karena itu nafkah mereka. Kadang, mereka juga gunakan ilmunya untuk ngobati orang. Karena itu, hanya aku buang khodam yang jelek dan biarkan khodam baik di tubuh mereka, kemudian berdoa supaya Allah yang menyelesaikan selanjutnya.